Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

1 Ramadhan 1435H Jatuh Pada Ahad 29 Juni 2014

Gambar
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sedang melakukan pengamatan Hilal di Lantai 32 Season City, Senin, (8/7/2013) Pemerintah melalui Kementrian Agama menetapkan 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Ahad 29 Juni 2014. Penetapan diambil setelah pemantauan hilal di sejumlah titik di Indonesia tak satupun melihat hilal. Penetapan 1 Ramadhan jatuh pada hari Ahad, disepakati Ormas Islam yang hadir dalam sidang Isbat yang digelar Kementrian Agama, (Jum’at, 27/06/14). Usai sidang Isbat yang digelar tertutup, Menteri Agama Lukman Hakin Syarifudin menyampaikan, ada 63 titik pengamatan di seluruh Indonesia untuk melihat hilal. “Dari para saksi yang kami tugaskan di 63 titik di seluruh tanah air, tidak satupun yang melihat hilal. Sehingga kami menyatakan melakukan istiqmal atau menyempurnakan bulan sya’ban menjadi 30 hari, kemudian diputuskan 1 Ramadan 1435 H jatuh bertepatan pada Ahad tanggal 29 Juni 2014,” ujarnya Sidang isbat digelar tertutup. Sidang Isbat dihadiri Ketua Umum M

Ma’had Aly Termas Gelar Wisuda Perdana

Gambar
Ma’had Aly Termas  atau Pesantren Tinggi Attarmasi Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan menggelar rapat senat terbuka dalam rangka wisuda Sarjana ‘Alimiyah (S.A) tahun akademik 1435 H/ 2014 M, Rabu (18/6) malam. Sebanyak 33 Mahasantri dari angkatan pertama dan kedua diwisuda oleh Mudir Ma’had Aly Attarmasi KH. Luqman Harist Dimyathi. Mereka dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Sarjana ‘Alimiyah ( S.A) pada konsentrasi Ilmu Fiqh dan Usul Fiqh. KH. Luqman Harist Dimyathi dalam sambutanya menyampaikan ungkapan syukur yang sangat besar atas terselenggaranya Wisuda Perdana Ma’had Aly ini. Ma’had Aly Attarmasi yang diresmikan oleh Menteri PDT RI Lukman Edy pada tahun 2006 lalu merupakan kebangkitan dari sebuah lembaga yang bernama Qismunnidhom yang pernah didirikan oleh Almagfurlah Kyai Hamid Dimyathi sekitar tahun 1934 silam. “Berdirinya Ma’had Aly Attarmasi mendapat dukungan dan respon yang sangat positif dari para masyayikh, alm. KH. Sahal Mahfud Rais Aam PBNU Waktu itu

Gus Yusuf Chudlori: Penutupan Dolly Bisa Jadi Inspirasi Daerah Lain

Gambar
Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU , KH Muhammad Yusuf Chudlori, mendukung penutupan lokalisasi terbesar se-Asia, Dolly. Meski demikian, pihaknya berharap penutupan ini benar-benar menjadi solusi bagi masyarakat, bukan memperkeruh persoalan sosial. “Saya mendukung penutupan lokalisasi di Dolly, kami berharap ini benar-benar menjadi solusi untuk membangun lingkungan yang nyaman dan bersih dari persoalan sosial bisnis prostitusi,” kata Gus Yusuf, sapaannya, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Penutupan Dolly resmi dilakukan pada Rabu (18/6). Secara simbolis deklarasi penutupan dihadiri Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri. Dalam kesempatan tersebut Mensos menggelontorkan bantuan Rp 7 miliar untuk menanggulangi dampak paska penutupan. Selain itu Provinsi Jatim juga mengucurkan Rp 1,5 miliar. Menurut Gus Yusuf, negara menjamin setiap warga soal kesejahteraan dan mendapatkan penghidupan yang layak. Maka, setelah penutupan p

A group of youths studying at Pesantren Al Muayyad yearn for established respect for all faiths in Indonesia

Oxi Ramadani, a student at Pesantren Al Muayyad in Solo, was distressed about frequent reports of intolerance in her city, despite its religious diversity. Together with friends Laula Sawitri Hilman, Siti Zaenab, Anisa Nur Khasanah, Yuyun Najinah Al-Kholisi and Asyifa, Oxi accepted her school's offer to make a documentary on the topic– one challenging the image of her city as a haven for extremists. "We had never made a film before. Making this film was the first time I had ever held a camera," Anisa said. The film "Satu Alamat" (One Address) tells the story of Muslims and Christians living in harmony. Its teenage protagonist (also named Anisa and played by Oxi), studies in a pesantren and is disturbed by the many reports of extremists apprehended in her region. Ultimately, she discovers religious harmony still exists in her city when she learns Masjid Al-Hikmah and Javanese Christian Church (GKJ) in Joyodiningratan respectfully share both an a

1 Abad Salafiyah Syafi’yah: KH As’ad Pantas Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Gambar
KH. As'ad Syamsul Arifin P ondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah , di Situbondo, Jawa Timur kini memasuki usia satu abad. Seiring peringatan 100 tahun pesantren yang menjadi pendukung NKRI ini, wacana untuk menjadikan almarhum KH As’ad Syamsul Arifin sebagai Pahlawan Nasional kembali menguat. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak tokoh masyarakat, ulama dan para santri untuk memegang teguh pesan pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah KH As’ad Syamsul Arifin dan meneladani sepak terjangnya. Selain sebagai tokoh, KH As’ad juga banyak memberi kontribusi dalam bidang pendidikan dan berdirinya NKRI, sehingga kini para alumni dari pondok Salafiyah Syafiiyah banyak berkiprah di masyarakat, kata Menag Lukman Hakim Saifuddin. Hal itu dikatakan Menag Lukman Hakim Saifuddin saat memberi sambutan pada peringatan satu abad berdirinya Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Selasa (17/6/2014) malam. Dalam acara tersebut hadir Wakil Gubernur Jati

Tolak Pabrik Semen , Ibu-ibu dan Santri di Rembang Bentrok dengan Tentara

Gambar
tolak pabrik semen ibu-ibu dan santri di rembang bentrok dengan tentara (ilustrasi) Agenda peletakan batu pertama tambang semen di Rembang, Jawa Tengah berujung bentrok. Warga sekitar lokasi yang melakukan penolakan dan aksi blokade terlibat bentrok dengan polisi dan tentara yang menjaga areal pabrik semen. "Satu kompi tentara dikerahkan untuk mensweeping dulur-dulur(saudara-saudara) yang bersembunyi di semak-semak sekitar pertigaan jalan masuk pabrik. Dengan kawalan tentara dan polisi, 1 truk yang ditumpangi santri masuk ke tapak pabrik. Rencananya mereka akan menggelar doa untuk peletakan batu pertama. Tapi terjadi bentrok," ujar Aktivis Forum Komunikasi Masyarakat Agraris, Taqiyuddin kepada wartawarn, Senin(16/6/2014). Menurut Taqi, kebanyakan warga yang terlibat bentrok dengan aparat polisi dan tentara di sekitar lokasi pabrik semen adalah ibu-ibu dan para santri. "Ibu-ibu banyak," kata Taqi. Hingga berita ini diturunkan peristiwa bentrokan dikab