Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Menggagas Dakwah Progresif

Gambar
Muhtadi Ar Kasus Yusnari Yosra, seorang khotib Jum’at di masjid DPRD DKI Jakarta, dalam khutbahnya sebulan lalu (25/8/2008) menghina Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), dan kemudian oleh jamaah jum’at dipaksa untuk menghentikan khutbahnya, adalah satu di antara ribuan kasus yang akhir-akhir ini sering kita jumpai dalam khutbah jum’at, maupun ceramah-ceramah agama. Di banyak masjid, baik di wilayah Jakarta dan sekitarnya, maupun dibeberapa kota besar di Indonesia, seringkali kita jumpai khutbah yang isinya hanya menghujat, menyalahkan, menjelek-jelekkan, bahkan menghakimi orang atau kelompok lain sebagai orang dan kelompok yang sesat, murtad, dilaknat, dan segenap cap buruk lainnya. Keadaan demikian, tentu sangat memprihatinkan. Pertama, mimbar khutbah yang sesungguhnya adalah tempat untuk menyampaikan pesan takwa dan keluhuran ajaran agama, telah berubah fungsi menjadi tempat untuk menggunjing, bahkan memfitnah orang atau kelompok yang berbeda. Kedua, sebagai sesama muslim

Pesantren dan Pendidikan Karakter

Gambar
AntaraNews Pendidikan modern dewasa ini telah dihadapkan pada dilema pendidikan yang amat substansial, yaitu pendidikan hanya menitikberatkan kepada transmisi sains dan mengabaikan pendidikan karakter. Padahal, pendidikan sains yang tidak disertai pembinaan karakter akan membawa proses dehumanisasi yang bagi pembangunan nasional dapat menyebabkan lemahnya dan bahkan hilangnya nilai-nilai patriotisme: cinta Tanah Air, disiplin nasional, rasa kebanggan nasional, dan rasa tanggung jawab nasional. Oleh sebab itu, para orangtua anak didik banyak memilih pesantren sebagai alternatif untuk mewujudkan impian mereka, yakni memiliki anak yang melek sains, berakhlak, dan berkarakter. Pendidikan karakter  adalah sebuah proses penanaman nilai esensial pada diri anak melalui serangkaian kegiatan pembelajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi core values dalam pendidikan yang dijalaninya ke dalam kepribadiannya. Se

Pesantren Sunan Pandanaran Ngaglik Sleman

Gambar
Pondok Pesantren Sunan PandanAran (PPSPA). Kemajuan Pesantren Sunan Pandanaran di awal bedirinya, paling tidak 9 tahun setelah diresmikan oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Paku Alam VIII, bisa dibilang pesat. Perkembangannya telah mengukuhkan pesantren ini sebagai salah satu pesantren ternama di DIY, di samping Pesantren al-Munawwir, Krapyak.  Ada tali sejarah yang menghubungkan Pesantren Sunan Pandanaran dengan pesantren al-Munawwir, Krapyak. KH. Mufid Mas'ud, pendiri dan pengasuh pesantren ini, semula adalah pengasuh Pondok Puteri al-Munawwir, Krapyak. Pada bulan Oktober 1975, kyai kelahiran Tembayat, Klaten, Jawa Tengah ini hijrah sekeluarga dari Krapyak ke desa Candi, Sleman. Menempati tanah wakaf dari H. Masduqi Abdullah seluas 2000 m2, yang terletak sekitar 200 meter sebelah barat jalan raya Yogya-Kaliurang Km.12, kepindahan KH. Mufid juga disertai seorang santri kesayangannya, Wasil dari Bantul. Di desa sejuk di lereng gunung Merapi inilah Kyai Mufid m

Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Panggungharjo, Bantul

Gambar
Terletak di Selatan Kota Yogyakarta, sekitar 5 Km dari pusat kota di jalur menuju pantai wisata Parangtritis, Pesantren al-Munawwir dipimpin oleh K.H. Ali Ma’shum Rois Aam PB Syuriah Nahdlatul Ulama (1983). Nama al-Munawwir yang diabadikan sebagai nama pesantren, berasal dari nama cikal bakal/pendiri pesantren, K.H M. Munawwir. Pada tahun 1911, sepulang dari belajardi Mekkah selama 21 tahun, KH. Munawir yang tinggal di kampung Kauman, Yogyakarta (di belakang Masjid Agung alun-alun Yogyakarta) membuka pengajian di rumahnya. Kian hari santri terus bertambah, dan rumah Kyai tak mampu lagi menampung. Maka dipindahkanlah tempat pengajian itu ke desa Krapyak Kulon. Beberapa bangunan pondok yang dibangun di tempat baru inilah yang kemudian dikenal sebagai kompleks Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak. Pada awal berdirinya, pesantren ini menekankan pengajaran al-Qur’an, baik secara binnadhar degan membaca langsung, bilghoib, hafalan. Kemudian dari pelajaran bilghoib i

Islam dan Masyarakat Bangsa

Gambar
Dok: Detiknews Islam lahir di lingkungan masyarakat yang berukuran kecil, yaitu masyarakat antar keluarga dalam suku yang sama, yaitu suku Quraisy. Setelah tiga belas tahun lamanya hidup dalam lingkungan seperti itu, ia menjadi pegangan hidup masyarakat antar suku di kota Madinah, yang sebelumnya bernama Yatsrib. Keadaan demikian bertahan hingga menjelang saat Nabi Muhammad SAW wafat di tahun 10 H. Bentuk masyarakat lebih luas tercapai ketika dilanjutkan oleh khalifah Abu Bakar Siddiq sepeninggal beliau. Kawasan masyarakatnya bukan lagi kota Madinah belaka, melainkan telah menjangkau jazirah/semenanjung Arabia secara keseluruhan. Ketika Umar Ibnul Khattab menjadi khalifah kedua menggantikan Abu Bakar, ia mengembangkan wawasan masyarakat kaum muslimin menjadi sebuah imperium dunia. Kawasan yang demikian luas dari tepian sungai Indus di Timur membentang ke tepian Timur Samudra Atlantik di sebelah Barat itu disebut Arnold J. Toynbee sebagai 'oikuomene Islam', salah satu diantara p

Pesantren Miftahul Huda, Tempel Sleman

Gambar
Ilustrasi Pesantren Secara fisik, pesantren ini baru terwujud sesudah pengasuh berhasil mendirikan sebuah masjid dan 6 buah kamar pemondokan santri yang sederhana pada tahun 1951. Namun usaha rintisannya telah berjalan sebelum itu, yaitu ketika pengajian dilakukan di rumah pendiri pesantren, KH. Ihya.  Dengan perlahan pesantren ini terus mengembangkan diri. Untuk kebutuhan santri-santri putri, sebuah bangunan asrama dengan 14 kamar kemudian dibangun. Pada akhir 1982 sebuah bangunan bertingkat dengan 12 kamar didirikan. Fasilitas seperti listrik dan sumur pompa berhasil diperoleh. Demikian juga beberapa alat ketrampilan seperti mesin jahit atas sumbangan masyarakat setempat. Sampai tahun 1981, tercatat 950 orang santri yang menuntut ilmu di sini. Di antara mereka yang mukim hanya 59 orang, terdiri dari 39 putri dan 20 putra. Meskipun pesantren sudah menganut sistem klasikal, pelajaran yang diberikan sepenuhnya masih menggunakan kitab-kitab sebagai pegangan utama. Di samping itu juga mas

Pesantren Asalafiyah Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman

Gambar
Pesantren Assalafiyah terletak di desa Mlangi, Kelurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Slemana, Yogyakarta. Dirintis sejak juni 1936 oleh Kyai Masduki yang lahir di Bantul tahun 1901 dan pernah menimba ilmu antara lain di pesantren Tremas, Pacitan. Pondok ini mencatat kemajuan berkat putra Kyai Masduki yang bernama Suja'i, alumni pesantren Krapyak, Lasem, dan Tegalrejo. Ia menerima kepemimpinan pesantren sesudah ayahnya mengundurkan diri karena usia lanjut. Selama mengasuh pesantren ini, Kyai Suja'i mengambil langkah pembenahan ke dalam, antara lain penertiban administrasi pesantren, mendirikan organisasi pesantren dengan sejumlah staf yang memiliki tugas masing-masing, serta pembenahan kurikulum.  Untuk tahun 1982/1983, santri yang belajar di sini berjumlah 150 orang, seluruhnya putera. Hanya lima orang diantara mereka yang tidak mukim. Sebagian dari mereka ada yang mengaji sambil bersekolah, atau sambil bekerja di pabrik tenun atau batik. Dalam sistem pengajarannya,

Pesantren Annur, Pendowoharjo, Sewon, Bantul

Gambar
Pesantren Annur terletak di kampung Ngrukem, kelurahan Pendowharjo, kecamatan Sewon, Bantul, kira-kira 10 km dari jantung kota Yogyakarta. Lokasi ini dapat dicapai dengan kendaraan roda empat, kecuali 400 meter jalan masuk ke kompleks pesantren. Dirintis pada tahun 1964, pada mulanya pesantren ini hanya berbentuk pengajian yang diselenggarakan di rumah Kyai Nawawi Abdul Aziz, seorang alim kelahiran Kutoarjo tahun 1925. Di masa mudanya, ini pernah menuntut ilmu di beberapa pesantren, antara lain pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Selam di Krapyak, Nawawi berhasil menghafal al-Qur'an yang kemudian diperdalam lagi selama tiga tahun di pesantren Yanbu'ul Qur'an Kudus, pimpinan Kyai Arwani. Di Krapyak itu pula Kyai Nawawi diambil menantu Kyai Munawwir, pengasuh pesantren. Selesai belajar di pesantren, Kyai Nawawi kembali ke Kutoarjo dan mendirikan madrasah. Tidak begitu lama ia kembali ke Krapyak sambil bekerja di Departemen Agama Bantul. Ia lalu bermukim di Ngrukem dan

Pesantren Al-Qur'an Wates (Pesawat), Kedung Pring-Giri Peni, Wates, Kulon Progo

Gambar
Motivasi untuk mendirikan pesantren ini sebenarnya muncul ketika pendirinya, Kyai Chasan Tholabi, melihat kenyataan banyak anggota masyarakat Kulonprogo khususnya generasi muda Islam, yang belum menguasai bacaan al-Qur’an. Hal ini bahkan dijumpainya juga di kalangan pelajar sekolah agama baik negeri maupun swasta. Berbekal ilmu yang ditimbanya dari Pesantren al-Qur’an Bustanul Qur’an wal Qiraah, Krapyak, Yogyakarta, selama 7 tahun; Pesantren Bustanu ‘Usyaqil Qur’an, Demak selama 3 tahun dam dari pesantren Watu Congol, Muntilan, selama setahun; Kyai Hasan (1970) mendirikan pesantren ini di sebuah desa yang terletak sekitar 30 km dari Yogyakarta. Kyai Hasan sendiri kelahiran Magelang tahun 1923. Melihat usia pesantren yang masih relative muda dan sejak awal diarahkan untuk memberi pengajaran kepada masyarakata setempat, wajarlah kalau sebagian besar santri di ‘pesawat’ (istilah santri untuk menyingkat Pesantren Wates) ini adalah non mukim. Di samping belajar qiraat dan menghafal al-Qur’a

Tradisi Ramadhan Padukan Budaya Jawa, Arab, dan China

Gambar
Dugderan, pesta tradisi rakyat Semarang sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadhan, ditutup dengan sebuah karnaval khas yang mengusung warak ngendog, Minggu (31/7) sore. Pesta tradisi itu menyedot perhatian puluhan ribu warga karena sukses menampilkan parade seni budaya asli Kota Semarang dengan memadukan budaya Arab dan China. "Sejak puluhan tahun lalu, dugderan sudah menjadi simbol ungkapan sukacita warga Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Oleh sebab itu, dalam karnaval kali ini kami tampilkan kearifan lokal yang menjadi ciri perkembangan seni budaya Semarang," ujar Wali Kota Semarang Soemarmo, saat mengawali prosesi karnaval dugderan. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, karnaval dugderan tahun ini terasa sangat berbeda. Untuk parade seni budaya, kali ini dibagi menjadi dua bagian. Sesi pertama dilakukan pagi hari dan khusus diikuti anak-anak dan pelajar, mulai TK hingga SMP. Karnaval dimulai dari Lapangan Simpanglima dan berakhir di