[29-30 Desember 2012] PP-RMI-NU: ToR dan Jadwal Halaqah Pengasuh Pesantren
Term of Reference (TOR)
Halaqah Pengasuh Pesantren: Penguatan Peran Pesantren Sebagai Pusat Peradaban
Kerja Sama PP RMI-NU dan Direktorat PD Pontren Kementerian Agama
Jakarta, 29 – 30 Desember 2012
A. LATAR BELAKANG
Pesantren merupakan salah satu unsur penting dalam dinamika historis bangsa Indonesia. Secara hirtoris, pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa sejarah bangsa Indonesia, baik sosial, budaya, ekonomi maupun politik. Sejak masa awal penyebaran Islam, pesantren adalah saksi dan pelaku utama bagi penyebaran dan pengajaran Islam di Indonesia, karena pesantren adalah sarana penting bagi kegiatan islamisasi di Indonesia. Perkembangan dan kemajuan masyarakat Islam Nusantara, khususnya Jawa, tidak mungkin terpisahkan dari peran yang dimainkan oleh pesantren. Berpusat dari pesantren, perputaran roda ekonomi dan kebijakan politik Islam dikendalikan. Di masa Walisongo, tidak sedikit Wali-wali di Jawa menguasai jaringan perdagangan antara pulau Jawa dengan luar Jawa, seperti Sunan Giri yang memiliki jaringan perdagangan antara Jawa dengan Kalimantan, Maluku, Lombok dan sebagainya. Begitu pula dengan perjalanan politik Islam di Jawa, pesantren mempunyai pengaruh yang kuat bagi pembentukan dan pengambilan berbagai kebijakan di kraton-kraton. Misalnya, berdirinya kerajaan Islam Demak, adalah karena dukungan dan kontrol kuat dari para ulama, seperti Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan sebagainya. Dari itulah, dapat disimpulkan bahwa dinamika masyarakat Islam dimasa awal dapat ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antara pesantren, pasar dan kraton.
Dari segi kepemimpinan nasional, “tidak sedikit pemimpin-pemimpin negeri ini, baik pemimpin yang duduk dalam pemerintahan – besar maupun kecil – maupun pemimpin informal yang dilahirkan oleh pondok pesantren”. Catatan sejarah menunjukkan, pesantren banyak melahirkan pemimpin masyarakat, disamping mencetak kyai. Ada pesantren besar yang harum namanya karena dulu banyak melahirkan kyai dan ada pula pesantren yang terkenal karena namanya selalu dikaitkan dengan beberapa alumninya yang menjadi pemimpin masyarakat.
Pada awalnya pesantren memang tak lebih dari sebatas “lembaga agama”, dalam arti menjalankan fungsi-fungsi keagamaan bagi masyarakat sekitarnya, khususnya dalam masalah pengajaran, pewarisan, dan pelestarian ajaran-ajaran Islam. Namun dalam perkembangannya kemudian, pesantren tidak hanya menjadi lembaga agama, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang mengemban fungsi-fungsi kemasyarakatan bagi komunitas di sekitarnya.
Peran pesantren sebagai lembaga sosial ini kemudian dijadikan pijakan untuk menjadikan pesantren sebagai agen perubahan (agent of change) terhadap masyarakat sekitarnya, sebagai lembaga perantara yang diharapkan dapat berperan sebagai dinamisator dan katalisator pembangunan masyarakat desa; tidak hanya di bidang keagamaan tapi juga dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Posisi pesantren yang berada di antara dua “dunia” , yakni dunia pedesaan dan dunia luar, sangat memungkinkan pesantren berperan sebagai lembaga perantara. Letak pesantren didaerah pedesaan dapat memungkinkan lembaga ini memahami persoalan-persoalan masyarakat desa, dan demikian pula gagasan-gagasan baru dari luar dengan ditopang oleh semangat keilmuannya akan dapat diserap secara lebih baik, untuk kemudian ditrasferkan kepada masyarakat desa.
Tugas kemasyarakatan pesantren sebenarnya tidak mengurangi arti tugas keagamaannya, karena dapat berupa penjabaran nilai-nilai hidup keagamaan bagi kemaslahatan masyarakat luas. Dengan tugas seperti ini pesantren akan menjadi milik bersama, didukung dan dipelihara oleh kalangan yang lebih luas.
B. TUJUAN
a) Pemetaan problem pesantren kekinian, terutama dari segi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya.
b) Perumusan strategi penguatan kelembagaan dan kerja sama lintas sektor.
c) Perumusan aksi bagi upaya-upaya penguatan pesantren sebagai pusat peradaban.
B. BENTUK KEGIATAN
Bentuk kegiatan dari program ini adalah halaqah Penguatan Pondok Pesantren yang akan dihadiri oleh 40 pengasuh pondok pesantren se-Jawa.
C. MATERI
Adapun Materi Workshop ini adalah :
a) Revitalisasi Pesantren sebagai Pusat Kaderisasi Ulama.
b) Mencermati Kurikulum Pendidikan Agama Islam 2013
c) Perencanaan Strategis RMI-NU 2013
D. PESERTA
Peserta Halaqah ini berjumlah 40 orang terdiri dari para Pengasuh Pesantren Se-Jawa.
Jadwal
Halaqah Pengasuh Pesantren
“Penguatan
Peran Pesantren Sebagai Pusat Peradaban”
Jakarta,
29 – 30 Desember 2012
Jam
|
Kegiatan
|
Narasumber
|
Moderator
|
29 Desember 2012
|
|||
12.00
- 14.00
|
Registrasi Peserta
|
Panitia
|
|
14.00
– 16.00
|
Pembukaan
|
PBNU, Ketua PP RMI
|
Panitia Lokal
|
16.00
– 18.00
|
Laporan Perkembangan PP RMI-NU
|
Drs Miftah Faqih, MA
|
Masrur Ainun Najih
|
18.00
– 19.30
|
ISHOMA
|
||
19.30
– 21.30
|
Revitalisasi Pesantren sebagai Pusat Kaderisasi
Ulama
|
Ace
Saifuddin
Direktur
PD Pontren
|
Lukman Hakim
|
30 Desember 2012
|
|||
08.00
– 10.00
|
Mencermati Kurikulum Pendidikan Agama Islam
2013
|
Dr
Amin Haedari, M.Pd
|
Abdullah Mas’ud
|
10.00
– 10.15
|
Istirahat
|
||
10.15
– 11.30
|
Branstorming Perencanaan Strategis RMI-NU 2013
|
KH Yusuf
Chudlori
|
Agus Muhammad
|
11.30 – 13.30
|
Penutupan/Doa
|
KH A
Fachrurrozi
|
Komentar
Posting Komentar