Postingan

RMI NU: Potensi Ekonomi Pesantren Cukup Besar

Potensi ekonomi pondok pesantren (ponpes) sebenarnya cukup besar. Begitu juga ponpes telah mempunyai tenaga-tenaga terampil yang dapat menggerakkan potensi ekonomi. Namun, pesantren masih belum mempunyai ”kepercayaan diri” untuk memulai sehingga potensi ekonomi itu belum teroptimalkan untuk kepentingan pesantren. Demikian wacana yang mengemuka pada Sarasehan II tentang Pengembangan Ekonomi Pondok Pesantren yang digelar Pimpinan Pusat Rabithah Maahid Islamiyah, di Ponpes Pulosari, Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Sarasehan hasil kerja sama dengan Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) itu diikuti 75 pengasuh ponpes se-Jabar. ”Kita sudah punya modal dasar untuk mengembangkan potensi ekonomi pesantren, yaitu kejujuran, kepercayaan, profesionalisme, dan komunikatif. Persoalannya, modal dasar itu sering ditenggelamkan oleh rasa kekhawatiran kita yang sering lebih besar daripada optimisme kita,” ujar Ketua Umum PP RMI KH Mahmud Ali Zain. Menurut dia, dunia perbankan Indonesia...

PP RMI Terbitkan "Jurnal Rabithah"

Pimpinan Pusat Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia atau Rabithah Ma’ahid Islamiah (RMI), salah satu lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) telah menerbitkan media khusus bernama  Jurnal Rabithah . Pada edisi perdana kali ini  Jurnal Rabithah mengangkat topik, “ Awan Cerah Ekonomi Syariah di Pesantren .” Menurut Pimpinan Redaksi Jurnal Rabithah, Sulthan Fatoni, tema ini sengaja diangkat untuk merespons masukan Ketua PP RMI, KH. Mahmud Ali Zain, yang akan memulai program pengembangan potensi ekonomi pondok pesantren.  “Pada edisi pertama ini kami memilih tema kajian yang kontekstual dengan program PP RMI, yaitu pengembangan potensi ekonomi pesantren,” katanya di Jakarta, Rabu (21/3). Jurnal Rabithah akan mengembangkan diri sebagai sarana eksplorasi intelektualitas santri pondok pesantren. “Program capaian kami ke depan adalah menciptakan sarana komunikasi antar pesantren, pengurus dan warga nahdliyin dengan PP RMI. Yang tidak kalah pentingnya adalah up...

RMI Kembangkan Potensi Ekonomi Pesantren

Pondok pesantren adalah salah satu institusi sosial yang mempunyai potensi ekonomi cukup besar dan sampai saat ini masih belum dimaksimalkan. Karena itu penguatan ekonomi pondok pesantren diyakini dapat mempengaruhi ekonomi masyarakat sekitarnya. Jika gerakan ini membesar akan mampu menciptakan kantong-kantong penggerak ekonomi masyarakat yang secara otomatis dapat mengurangi kemiskinan di Indonesia. Demikian dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Pimpinan Pusat Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia atau Rabithah Ma’ahid Islamiah (RMI), salah satu lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) bekerjasama dengan Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) di Gedung Artaloka, Jl. Panglima Sudirman Jakarta Pusat, Ahad (18/3). Hadir dalam diskusi tersebut di antaranya: KH. Mahmud Ali Zain (Ketua PP RMI), HM. Sulthan Fatoni, H. Masud Abdullah, (keduanya Wakil Sekretaris PP RMI), Zainussholeh (Staff penulis PP RMI), Nadratuzzaman Hosen, (Direktur PKES), Hasan...

Taushiyah Pertemuan Semarang

Pertemuan kiai-kiai pesantren kali ini terasa membawa kesan tersendiri. Di saat pengelola negara ini meninggalkan mandat rakyat, sementara para wakilnya sibuk dengan urusan partainya masing-masing. Di saat para pengusaha besar menganut satu-satunya motif yaitu bagaimana mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya (laissez-faire). Disaat semakin banyaknya kalangan yang menggunakan agama sebagai alat justifikasi kepentingan; para kiai-kiai pesantren ini dengan penuh kesadaran dan kearifan memberikan taushiyah kepada segenap elemen bangsa ini. Ya, para kiai-kiai pesantren yang bahkan sebelum zaman kemerdekaan ini selalu mengedepankan kebangsaan, sampai saat ini terus menerus mengawalnya. Seakan-akan mereka tidak rela melihat bangsa tercinta ini hancur dari dalam. Pada hari Sabtu, 10 Pebruari 2007, dengan penuh keprihatinan, mereka berkumpul dan merefleksikan segala persoalan yang menimpa bangsa ini di Pon Pes Edi Moncoro, Semarang. Seperti biasa, sebagai bukti dari peran keulamaan...

NU Studies: Pergolakan pemikiran antara Fundamentalisme Islam & Fundamentalisme Neo-Liberal

Gambar
Cover Buku NU Studies: Pergolakan pemikiran antara Fundamentalisme Islam & Fundamentalisme Neo-Liberal - Ahmad Baso image: www.rmi-nu.or.id Judul Buku :  NU Studies: Pergolakan pemikiran antara Fundamentalisme Islam & Fundamentalisme Neo-Liberal Penerbit : Erlangga Penulis : Ahmad Baso Tahun Terbit : Cet 1: 2006 Kertas & Halaman : Isi kertas HVS. Ukuran Buku : Soft Cover ISBN : 978-781-486-6 NU Studies berusaha membuka mata Anda ke segala arah, ke segenap penjuru angin. Yakni dengan melihat segenap retorika dan kampanye ide-ide dari luar dalam konteks, siyaqul kalam atau asbabun nuzul -nya. Baik kelompok liberal pro Amerika maupun kelompok Islam berjenggot, sama-sama muncul dari konteksnya masing-masing. Dan konteks itulah yang harus dibuka dan dipaparkan selebar mungkin kepada publik, terutama kepada kalangan Nahdliyin secara khusus dan kepada komunitas bangsa ini secara keseluruhan. Ini agar bangsa kita tidak mudah dipe...

Pesantren Moderat Versus Pesantren Radikal

Gambar
Siapa tidak mengenal Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, dan Pesantren Al-Islam, Lamongan? Masyarakat mulai menyoroti kedua pesantren tersebut berkaitan dengan gencarnya opini nasional untuk melawan dan mengubur terorisme. Pesantren Ngruki dikenal masyarakat berkaitan dengan ditangkapnya Abu Bakar Ba'asyir, pimpinan pesantren tersebut, karena diduga terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Megawati. Pesantren Al-Islam dihebohkan dengan "pengakuan" Amrozi atas peledakan bom di Legian, Bali. Akibatnya, bau tak sedap merebak di pesantren. Pesantren yang selama ini dianggap sebagai subkultur dan khazanah kebudayaan masyarakat berubah menjadi sosok yang amat mengerikan. Pesantren diidentikkan dengan terorisme. Pesantren yang selama ini dikenal sebagai lembaga dari, oleh, dan untuk masyarakat--yang dikenal dengan kelenturan, kesantunan, dan kesederhanaannya--tiba-tiba diduga sebagai penyimpan para teroris. Kini, polisi terlihat mondar-mandir di kedua pesantre...

Tentang Sebuah Ma’ahad Aly - KH. M. Hasan Basri

Ma’had Aly ( Sukerejo – Situbondo, selanjutnya ditulis MA) lahir dari sebuah kegelisahan atas gejala semakin lamgkahnya ulama. Diujung tahun delapan puluhan semakin banyak saja kyai-kyai sepuh dilingkungan Nahdlatul Ulama yang berpulang kehadirat Allah. Sementara dipihak lain, tidak muncul generasi-generasi baru yang terlihat mampu menggantikan posisi keagamaan dan kemasyarakatan mereka. Hal ini merupakan tikaman tajam bagi pesantren. Peran pesantren melahirkan kader-kader Ulama, kembali dipertanyakan. Dari suasana psikologis macam inilah MA lahir. Alm. KHR As’ad  Syamsul Arifin yang menakhodai kelahiran lembaga ini, seolah hendak mendarmabaktikan karya terakhir dan termonumentalnya umtuk masa depan Islam dan umat Islam. Maka melalui proses ketat, serius dan melelahkan, pada tahun 1990, MA resmi dibuka. Perguliran waktu selanjutnya telah membawa MA kini keusianya yang ke 10 tahun. Dalam rentang waktu sepanjang itu, banyak hal yang telah dilakukan MA sebagaimana juga lebih bany...