Postingan

Menampilkan postingan dengan label Muktamar RMI

Munas ke IV RMI Nahdlatul Ulama: Memperebutkan Posisi Imamah

NU sudah bersiap-siap memperebutkan jabatan Ketua Umum PPP. Sejumlah kiai menyurvei dan menjajaki keinginan bawah terjun ke politik. HUJAN deras yang mengguyur Senin pagi pekan lalu membuat becek pelataran Pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta. Toh Presiden Soeharto , yang diundang Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid, bersedia datang dan membuka Musyawarah Nasional IV Ikatan Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama atau Rabithatul Maahidil Islamiyah (RMI) . Dan hujan pula yang mengantar Wakil Presiden Try Sutrisno menutup perhelatan yang dihadiri 1.500 wakil pesantren itu Kamis pekan lalu. Meski banyak kiai sepuh yang tak tampak dalam acara itu, ada belasan menteri yang berbicara di RMI. Ini tidak mengherankan karena dalam wadah ikatan tersebut kini berhimpun sekitar 7.000 pondok pesantren, dengan sekitar 6 juta santri. Perhatian yang begitu besar dari Pemerintah ini tentu punya latar belakang tertentu. Sebut saja lembaga khusus di bawah Pengurus Besar NU ini terbentuk p...

Kontekstualisasi Kitab Kuning di Pesantren

Gambar
RMI NU, Media Pesantren SEKITAR 600 kiai Nahdatul Ulama (NU) berseminar menelaah kitab kuning secara kontekstual. Selama tiga hari, 15-17 Desember 1988, kiai-kiai itu merampungkan hajatan besar di Pondok Pesantren Darussalam, Watucongkol, Muntilan, Jawa Tengah. Setelah mengikuti diskusi secara maraton, mereka menyimpulkan: kitab kuning tetap perlu, tetapi harus ditelaah secara kontekstual (siyaqi) dan bukan lagi secara harfiah (TEMPO, 24 Desember 1988). Kesimpulan itu lalu dibawa ke Muktamar Nasional ke-3 Rabithah al-Ma'ahid al-Islamiyah (RMI) Ikatan Pondok Pesantren NU, yang dibuka Wapres Sudharmono, Sabtu dua pekan lalu itu. Acara ini sejak 17 sampai 20 Desember, di tempat yang sama. Di hari terakhir, Kasospol ARI Harsudiono Hartas datang memberi wejangan. Siangnya, saat cuaca mulai mendung, acara dilanjutkan dengan sidang pleno. Para laporan K.H.A. Muhith Muzadi, sekretaris pribadi K.H. Ahmad Shiddiq, Rois Am PM NU, tentang rumusan komisi A. Kata Kiai Muhith, pemahaman KK ...

Gus Dur: Ada Kecendrungan Jalan Pintas dalam Memahami Ilmu Agama

Gambar
KH. Abdurrahman Wahid, Ketu PBNU Muntilan (KR)- Ummat Islam saat ini cenderung menempuh jalan pintas dalam memahami ilmu Agama. Munculnya buku-buku terjemahan dalam jumlah yang semakin banyak, menyebabkan semakin besar pula dorongan untuk mempelajari isi kitab kuning melalui terjemahan, bukan dengan upaya memahami keselurusah isi. Berbicara pada ‘Munadzarah Pengembangan Ulumuddin melalui telaah Kitab Kuning secara Kontekstual’ di PP. Darussalam, Watucongol, Muntilan (Kamis, 15/Des/1988), KH. Abdurrahman Wahid menyatakan keprihatinannya bahwa kemampuan dan keinginan menguasai Kitab Kuning (KK) telah menurun drastis. Termasuk kesungguhan para santri dan guru untuk menggelutinya. Menurut Abdurrahman Wahid , kondisi yang memprihatinkan itu ditambah dengan meluasnya peredaran buku bandingan di kalangan mereka yang seharusnya mempelajari Kitab Kuning. Buku-buku semisal karangan Al-Maududi, Sayyid Qutub, Al-Qardhawi, Dsb, memang menarik dan masalah yang dibahasnya bersifat kontem...